CASABLANCA, SI PUTIH DI TEPI SAMUDERA ATLANTIK

Foto dulu di depan Masjid Hassan II

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Casablanca? Jalanan macet di depan Mal Ambassador atau terowongan yang sempat menjadi judul film horror? Bagi Warga Jakarta, Casablanca memang identik dengan kedua hal tersebut. Padahal, Casablanca merupakan nama sebuah kota di Maroko. Nama Jalan Casablanca di Jakarta memang mengambil nama kota cantik di Maroko.

Casablanca berarti rumah putih dalam Bahasa Spanyol. Sesuai dengan namanya, sebagian besar bangunan di kota ini memang berwarna putih. Mulai dari rumah-rumah penduduk, gedung-gedung perkantoran, stasiun kereta api, hotel hingga pertokoan semua bercat putih. Karena didominasi bangunan bercat putih, Casablanca terkesan bersih dan anggun.
Awalnya, Casablanca bernama Anfa. Konon, Anfa sangat maju dalam hal perdagangan. Kemudian, Bangsa Portugis mengambil alih Anfa dan mengubah namanyai menjadi Casa Branca. Mereka menetap di sana sampai terjadi gempa bumi pada tahun 1755. Adalah seorang sultan bernama Sidi Mohammed ben Abdallah yang merekonstruksi kembali Casa Branca yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Dar el Baida. Kedatangan Bangsa Spanyol sampai akhir abad 18, mengubah Dar el Baida menjadi Casablanca seperti yang kita kenal sampai sekarang.
Casablanca merupakan kota terbesar di Maroko melebihi ibu kotanya, Rabat. Kota yang terletak di antara Fez dan Marrakesh ini merupakan pusat perekonomian, industri dan keuangan Maroko. Meski kota modern, berbagai bangunan tua bergaya art deco yang terawat dapat dengan mudah kita lihat hampir di setiap ruas jalan Casablanca. Saya beruntung memiliki kesempatan mengunjungi kota yang berada di tepi Samudera Atlantik ini Bulan April kemarin.
 
Masjid Hassan II
Tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika tiba di Casablanca adalah Masjid Hassan II. Begitu kereta api yang membawa saya dari Marrakesh tiba di Stasiun Casa Voyageur, Casablanca, saya segera turun dan mencari taksi untuk menuju Masjid Hassan II. Saya sengaja tidak menuju ke hotel dulu, karena saya tidak membawa barang banyak dan saya sangat penasaran dengan masjid ini. Saya ingin segera melihat masjid yang menjadi ikon Casablanca ini.


Masjid Hassan II yang indah dan megah

Tak sampai 15 menit, taksi yang membawa saya dari Stasiun Casa Voyageur tiba di Masjid Hasan II. Saya terpana menyaksikan keindahan dan kemegahan Masjid Hassan II yang terletak di tepi Samudera Atlantik, tak jauh dari Kawasan Kota Tua Casablanca (Medina). Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1980, dalam rangka peringatan ulang tahun Raja Hassan II yang ke-60, dan selesai dibangun pada tahun 1993. Arsiteknya adalah Michel Pinseau yang berkebangsaan Prancis, sementara untuk pengerjaan seni dan detil bangunan dilakukan oleh para seniman terbaik Maroko. Semua bahan bangunan seperti batu granit, marmer, kayu dan material lain untuk konstruksi masjid ini berasal dari Maroko kecuali kolom granit putih dan lampu-lampu kristal yang didatangkan dari Italia.

Keunikan Masjid Hassan II adalah letaknya yang berada di atas tanah reklamasi. Hampir setengah dari banguna masjid berada di atas lautan (Samudera Atlantik). Jika dilihat dari kejauhan, Masjid Hassan II seperti terapung. Keunikan lainnya, masjid ini dibangun dengan konstruksi tahan gempa, memiliki pemanas lantai, pintu otomatis serta atap yang dapat dibuka-geser. Hiasan/ornamen di lantai, pintu, dinding dan langit-langit masjid sangat detil dan indah, kental dengan nuansa seni Bangsa Moor. Luas bangunan masjid mencapai 2 hektar dan dapat menampung 25.000 jamaah di dalam masjid serta 80.000 jamaah di halamannya. Konon, Masjid Hassan II merupakan masjid terbesar ketiga di dunia, setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menara (minaret)-nya yang setinggi 210 meter merupakan menara masjid yang tertinggi di dunia.

Ornamen yang detil dan indah di dinding masjid

Saya bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan mengunjungi masjid kebanggan Warga Maroko ini. Saya benar-benar takjub menyaksikan keindahan, keagungan dan kemegahan Masjid Hassan II. Saya mencari tempat yang nyaman di bibir pantai agar bisa memandangi Masjid Hassan II dan memotretnya dengan leluasa. Rasanya nikmat sekali duduk di tepi pantai, ditemani angin sepoi-sepoi sambil menyaksikan dua pemandangan menarik sekaligus, Masjid Hassan II dan Samudera Atlantik.

Medina
Puas mengagumi kemegahan Masjid Hassan II, saya bergerak menuju ke hotel yang sudah saya book lewat internet, yang berada di kawasan kota tua Casablanca (Medina). Ternyata tak mudah menemukan alamat hotel. Meski sudah membawa Peta Casablanca, saya tetap kesulitan menemukan alamat hotel. Pasalnya, sebagian besar jalan di Casablanca tidak mencantumkan nama jalan (walaupun di peta tercantum nama jalan tersebut) dan di setiap persimpangan jalan jarang terdapat rambu-rambu atau penunjuk arah. Sangat jarang jalan yang diberi nama. Biasanya hanya jalan-jalan protokol (jalan besar), yang dituliskan namanya, itu pun tidak semua. Nama jalan biasanya dituliskan di dinding/pagar rumah/gedung, dengan tulisan yang kecil dan tidak mencolok. Parahnya lagi, di pertigaan/perempatan jalan juga jarang ada rambu-rambu atau penunujuk arahnya. Hanya persimpangan jalan besar yang ada rambu-rambunya. Benar-benar bikin saya stres. Untunglah akhirnya saya bisa sampai di hotel dengan selamat, setelah bertanya beberapa kali ke penduduk setempat. Saya ditunjukkan jalan ke hotel oleh seorang bapak yang baik hati, yang kebetulan rumahnya berada tak jauh dari hotel tempat saya menginap.

Suasana jalan di Casablanca

Setelah check in dan meletakkan barang di kamar hotel, saya segera keluar untuk menjelajah Medina. Seperti kota-kota lainnya di Maroko, Casablanca juga mempunyai Kota Lama (Medina) dan Kota Baru (Ville Nouvelle). Kota baru dipenuhi dengan bangunan-bangunan modern dengan trotoar yang lebar, sementara kota lama penuh dengan bangunan tua dengan gang-gang sempit yang berkelok-kelok bak labirin. Saking banyaknya gang di Medina, saya sempat kebingungan dan tersesat. Namun, saya beruntung bisa menemukan pasar tradisional (Souq) yang meriah dan penuh warna setelah mengikuti ibu-ibu yang ternyata berjalan menuju pasar.

Pasar di Medina selalu sibuk dan dipadati turis sepanjang hari. Pasar ini menyediakan berbagai barang kebutuhan sehari-hari dan souvenir khas Maroko, seperti baju, kaos, tas, permadani dan aneka pernak-pernik lucu. Namun, saya tidak belanja di Medina. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari internet dan brosur wisata Casablanca, ada tempat belanja souvenir menarik lainnya di Casablanca, yaitu Quartier des Habous. Saya memilih makan siang di sebuah warung yang menjual makanan khas Maroko karena perut saya sudah keroncongan. Saya memilih menu Omelette Fromage, yaitu sandwich yang disajikan bersama french fries. Sandwich-nya terbuat dari baguette (roti panjang khas Perancis) dengan isi sayuran, keju dan mayones. Satu porsi Omelette Fromage harganya hanya 8 Dirham (sekitar Rp 8.800,00). Cukup murah dan mengenyangkan.

Place Mohammed V
 
Place Mohammed V
Penjelajahan di Casablanca berlanjut ke Place Mohammed V, alun-alun di pusat Kota Casablanca. Tiba di Place Muhammed V, saya disambut puluhan burung merpati yang beterbangan kesana-kemari. Sore itu, suasana alun-alun yang dikelilingi sejumlah bangunan tua nan cantik tersebut sangat ramai. Ada anak-anak yang sedang bermain bola, ada pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, dan ada seniman jalanan yang mencoba mengais rezeki di antara pengunjung alun-alun. Ada juga Warga Casablanca yang duduk-duduk santai di bangku taman. Mereka begitu menikmati suasana sore nan meriah di Place Mohammed V. Saya sendiri memilih bermain-main dengan burung merpati jinak yang beterbangan di alun-alun tersebut. Dengan menebar jagung yang saya beli dari seorang penjual di alun-alun tersebut, puluhan merpati segera mengerubuti saya.

Parc de La Ligue Arabe

Parc de La Ligue Arabe
Tak jauh dari Place Muhammed V terdapat taman yang luas dan asri bernama Park de La Ligue Arabe. Taman ini sangat hijau karena penuh dengan pohon-pohon palem yang tinggi dan rindang. Di taman ini juga terdapat lapangan bola yang selalu ramai di sore hari. Saya duduk di bangku taman sambil mengamati berbagai aktivitas Warga Casablanca di taman tersebut. Ada yang duduk-duduk sambil membaca buku, ada yang berpiknik sambil menggelar tikar, ada pula pasangan kekasih yang sedang berpacaran di salah satu sudut taman. Dibandingkan Place Muhammed V, Park de La Ligue Arabe lebih tenang dan sepi. Sebuah tempat yang cocok untuk menenangkan diri dari teriknya matahari dan semrawutnya lalu lintas Casablanca.
Cathedrale Sacre Coeur

Cathedrale Sacre Coeur
Di Kompleks Place de La Ligue Arabe, ternyata ada bangunan bersejarah yang sangat indah, yaitu Cathedrale Sacre Coeur. Saya tidak menyangka bisa menemukan katedral/gereja di negara Islam seperti Maroko. Katedral megah berwarna putih ini merupakan Katedral/Gereja Katolik terbesar dan tertua di Casablanca. Katedral bergaya neo gothic ini dibangun pada tahun 1930 dengan arsitek dari Perancis bernama Paul Tournon. Sejak tahun 1956, katedral ini tidak digunakan sebagai tempat ibadah lagi dan berubah fungsi menjadi pusat kebudayaan. Sayangnya, saya tidak bisa masuk ke dalam Cathedrale Sacre Coeur karena saat itu katedral sudah tutup. Ternyata saya datang kesorean. Jadi, saya hanya bisa memandangi kemegahan Sacre Coeur Cathedral dari luar.
Quartier des Habous
Menjelang senja, saya bergegas menuju Quartier des Habous, yang letaknya tak jauh dari Palais Royal (Istana Kerajaan Maroko). Sebenarnya saya ingin mampir ke Palais Royal, tetapi tidak jadi karena seperti istana-istana lainnya di Maroko Palais Royal juga tertutup untuk umum. Jangankan memasuki istana, memotret gerbang istana saja tidak boleh. Waktu saya mencoba mendekati gerbang istana untuk memotretnya, saya disemprit oleh prajurit penjaga. Untunglah, akhirnya saya diperbolehkan memotret gerbang istana tersebut (meski dari kejauhan), setelah saya jelaskan bahwa saya berasal dari Indonesia, negara muslim terbesar di dunia.

Quartier de Habous

Quartier des Habous tak jauh berbeda dengan Medina. Di tempat ini juga terdapat banyak pedagang yang menjual aneka barang kerajinan (souvenir) khas Maroko. Mulai dari baju, permadani, gantungan kunci, kartu pos hingga barang-barang antik seperti lampu aladin dan teko untuk menyeduh teh dengan detil logam yang indah. Selain itu, kita juga dapat menemukan berbagai macam kerajinan yang terbuat dari kulit mulai dari tas, sepatu, dompet hingga sarung bantal. Kalau ingin mencari oleh-oleh khas Maroko, Quartier des Habous-lah tempatnya. Harga barang relatif murah dan pilihannye beragam. Namun, seperti belanja di pasar-pasar lainnya, kita harus jago menawar untuk mendapatkan barang idaman dengan harga murah.
Getting There
Tak ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Casablanca. Anda bisa menuju kota ini via Dubai, Uni Emirat Arab (bila naik Emirates Airlines) atau Istanbul,Turki (bila naik Turkish Airlines). Anda bisa mengeceka jadwal penerbangan dan harga tiket ke Casablanca di situs web masing-masing (www.emirates.com) atau (www.turkishairlines.com). Pilihan lainnya yang lebih ekonomis, Anda bisa terbang menuju Casablanca dari berbagai kota di Eropa seperti London, Paris, Frankfurt, dan Barcelona. Banyak budget airline yang melayani rute Eropa - Maroko, di antaranya adalah Easy Jet (www.easyjet.com) dan Ryan Air (www.ryanair.com). (edyra)*** 


Dimuat di Majalah SEKAR No. 84, 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

0 Response to "CASABLANCA, SI PUTIH DI TEPI SAMUDERA ATLANTIK"

Post a Comment